Jumat, 08 Mei 2015

AKUNTANSI INFLASI

1.1  Tujuan dan Prinsip Akuntansi
Akuntansi keuangan merupakan media informasi yang disusun oleh manajemen selaku pengelola bisnis untuk kepentingan publik khususnya investor dan kreditor. Informasi akuntansi terjadi pada keuangan perusahaan yang memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan pada saat tertentu (neraca) serta hasil usahanya pada periode tertentu (laba/rugi). Penelitian di USA, Inggris dan NZ (Harahap, 1996) menunjukkan bahwa laporan keuangan merupakan sumber informasi pertama dalam keputusan investasi, memprediksi potensi arus kas yang akan diterima dan dikaitkan dengan ketidakpastian, menilai kemampuan perusahaan untuk mendapatkan laba, menilai kemampuan manajemen dalam mencapai tujuan utama perusahaan, dan yang terakhir memberikan informasi yang aktual dan interpretatif tentang transaksi dan kejadian lainnya. Untuk mencapai tujuan akuntansi dan laporan keuangan tersebut, perlu diketahui perbedaan antara postulat, konsep, prinsip, dan standar (tekhnik) akuntansi.
2.1  Pengertian Inflasi
Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinue) berkaitan dengan mekanisme pasar dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat atau adanya ketidak lancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
2.1.1        Penyebab Inflasi
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan atau desakan biaya produksi. Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment.
Inflasi desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik. Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji, misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi adalah sebagai berikut:
·         Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa
·         Tuntutan kenaikan upah dari pekerja.
·         Kenaikan harga barang impor
·         Penambahan penawaran uang dengan cara mencetak uang baru
·         Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998. akibatnya angka inflasi mencapai 70%.

2.1.2        Penggolongan Inflasi
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua :
a.       inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal.
b.      inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
Berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga, inflasi dapat dibedakan menjadi tiga:
a.       inflasi tertutup (Closed Inflation), Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu.
b.      inflasi terbuka (Open Inflation), kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum.
c.       inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi), kenaikan harga dimana setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot.
Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :
1.      Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
2.      Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
3.      Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
4.      Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

2.1.3        Mengukur inflasi
Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:
·         Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
·         Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
·         Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
·         Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
·         Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.

2.1.4        Dampak Inflasi
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu.
Inflasi menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya,kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.
Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

2.2  Perubahan dari Konsep Stable Monetary Unit
Stable Monetary Unit merupakan salah satu prinsip dasar akuntansi yang menyatakan bahwa kesatuan moneter itu dianggap stabil. Nilai uang yang ditetapkan dari pos-pos laporan keuangan, misalnya kas, piutang, hutang atau kewajiban lainnya. Pos ini memiliki angka dan jumlah nilai uangnya yang tetap itulah yang akan ditagih, dibayar dimasa yang akan datang tanpa ada perubahan (Harahap,2001). Padahal dimana saja didunia ini kita tidak pernah mendengar ada valuta yang memiliki nilai yang stabil. Ada yang mengalami apresiasi dimana nilai tukarnya atau daya belinya naik (deflasi) dan yang paling umum nilai tukar atau daya belinya justru menurun (inflasi). Di Indonesia pada tahun 1965 tertinggi sampai 650 %, pada tahun 1999 saja tingkat inflasi di Indonesia mencapai 9,35%. Ini menunjukkan bahwa prinsip Stable Monetary Unit hanya dalam asumsi tidak pernah ditemukan dalam kenyataan. Prinssip ini adalah untuk memudahkan perumusan teori dan asumsi akuntansi keuangan.
Permasalahan diatas memunculkan sebuah kritik yang menyatakan informasi yang disajikan laporan keuangan pada masa inflasi justru sia-sia karena nilai-nilai yang terdapat didalamnya tidak relevan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Dari permasalahan tersebut muncul usulan yang moderat yang artinya kita masih bisa menggunakan historical cost accounting, tetapi harus dibuat informasi atau laporan suplemen yang memuat dampak inflasi itu terhadap laporan keuangan, selain itu terdapat usulan lain yaitu menggunakan akuntansi inflasi.
Akuntansi inflasi ini berupaya untuk menyusun laporan keuangan yang memuat dampak dari inflasi atau penurunan nilai beli uang itu pada laporan keuangan sehingga laporan. keuangan menunjukkan satuan mata uang pada tingkat harga yang berlaku saat itu bukan lagi harga historis.

2.3  Akuntansi Inflasi
Metode yang digunakan dalam akuntansi inflasi ini sama dengan metode penentuan laba. Penekanan penentuan laba adalah pada nilai laba yang lebih relevan yang digambarkan oleh laporan keuangan, sedangkan inflasi nilai semua item yang terdapat dalam laporan keuangan.
Metode pengukuran aktiva dan kewajiban dapat dibagi (Johnson,1977) sebagai berikut.
1.      The entry value system dari harga umum yang terdiri dari:
a.    historikal cost
b.    general price level
c.    replacement cost
d.    reproduction cost
2.      The exit value system harga pasar atau current market value yang terdiri dari:
a.    net realizable value
b.    selling price
c.    expected value
Dari sudut akuntansi inflasi, di luar historikal cost adalah metode menyusun laporan keuangan untuk menyesuaikan dengan pengaruh inflasi.
2.3.1        General Price Level
Dalam metode General Price Level misalnya metode historikal cost disesuaikan dengan perubahan tingkat harga sehingga pada masa inflasi GPL ini lebih besar daripada nilai historikal cost.
            Keuntungan General Price Level Adjustment (GPLA) adalah:
a. dapat menjelaskan pegaruh inflasi pada perusahaan.
b. meningkatkan kegunaan perbandingan laporan antar periode.
c. membantu pemakai laporan menilai arus kas di masa yang akan datang secara lebih baik.
d. memperbaiki tingkat kepercayaan rasio laporan keuangan yang dihitung dari angka-angka laporan keuangan yang sudah disesuaikan.
Kelemahannya General Price Level Adjustment (GPLA) adalah:
a. inflasi itu terjadi pada barang yang berbeda dan perusahaan yang berbeda jadi tidak bisa disamaratakan.
b. GPLA tidak bermakna bagi perusahaan.
c. angka yang disesuaikan tidak menggambarkan arus kas.
d. rasio itu adalah indikator mentah.

2.3.2        Current Cost Accounting
Edgar Edward dan Philip Bell (1961) merupakan tokoh yang paling gencar mempromosikan konsep CCA ini. menurut mereka yang dibutuhkan oleh manajer adalah bagaimana mereka mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang ada untuk memaksimalkan laba.
Manajer biasanya menghadapi masalah apakah ingin mempertahankan suatu aktiva atau utang atau menjual atau membayarnya dan bagaimana menggunakan atau mendanai kegiatan perusahaan. Untuk menjawab ini maka Edgar dan Bell mengusulkan perhitungan busines profit. Busines Profit ini memiliki dua komponen:
a.   Current Operating Profit
b.   Realizable Cost Saving (Holding Gain)
Laba dari Current Operating adalah kelebihan nilai sekarang dari barang atau jasa yang dijual dengan harga pokoknya. Sedangkan Realizable Cost Saving adalah kenaikan harga pokok dari suatu aktiva yang masih dimiliki sekarang (dengan harga sekarang). Ini merupakan laba (atau bisa saja rugi) yang belum direalisasi dari suatu aktiva yang harganya naik (atau turun) karena perubahan harga, namun barangnya belum direalisasi atau belum dijual, maka ini disebut saving yang nantinya akan direalisasi. Sebenarnya hal ini merupakan opportunity gain atau loss.
Resvine menganggap itu dapat dianggap sebagai laba karena kenaikan harga itu akan mengakibatkan kas yang akan digunakan untuk mendapatkannya memang harus seharga itu jika kita ingin membelinya sekarang. Menurut beliau cash saving ini dapat digolongkan sebagai laba.
Beberapa bentuk Current Cost adalah sebagai berikut:
a.      Replacement cost
           Replacement Cost adalah nilai yang diukur saat ini (current cost) untuk mendapatkan aktiva baru atau menggantinya dengan kapasitas produksinya yang sama. Dalam praktik nilai ganti ini hanya diterapkan pada aktiva nonmoneter seperti persediaan dan aktiva tetap. Aktiva tetap disajikan menurut nilai gantinya, nilai bersih setelah digambarkan nilai yang sudah dipakai.
           Metode ini dikritik dalam hal:
1)      Subjektivitas penilaian atau taksiran harganya sehingga angka-angka yang timbul tidak didasarkan pada transaksi yang sebenarnya.
2)      Dalam hal harga suatu aktiva menurun maka penurunan itu akan menimbulkan pembebanan ke laba/rugi (misalnya penyusutan dan harga pokok produksi) lebih rendah dari beban pada historical cost, akhinya income akan lebih tinggi dari historical cost.
3)      Perubahan harga umum tidak tergambar dalam metode Replacement Cost ini, karena hanya untuk aktiva tertentu. Oleh karenanya, metode Replacement Cost ini dianggap bukan merupakan metode akuntansi inflasi.
4)      Sukar melakukan perbandingan antar perusahaan yang saling berbeda.
        Walaupun ada kritik ini, sebagian pihak menganggap bahwa metode ini merupakan metode yang paling mudah diterapkan dalam akuntansi inflasi, karena meskipun terjadi inflasi dengan metode ini akan memudahkan dalam hal pengukurannya.
b.      Reproduction Cost
           Reproduction Cost adalah istilah lain yang hampir sama dengan Replacement Cost. Di sini harga itu diukur berdasarkan harga sekarang jika aktiva itu dibuat atau diduplikasi seperti barang yang dimiliki itu tanpa melihat perubahan teknologi yang mungkin memengaruhi aktiva yang dibuat itu. Jika suatu aktiva baru direproduksi tanpa menghiraukan perubahan teknologinya nilainya sama dengan Replacement Cost. Dengan demikian, secara umum apa yang berlaku pada metode Reproduction Cost ini.
c.       Net Realizable Value
           Net Realizable Value merupakan harga jual dikurangi taksiran biaya penjualan. Pada masa inflasi nilai dari net realizable value ini lebih besar dari replacement cost karena manajemen tidak mungkin menjual barangnya tanpa mengharapkan laba marjin general price level. Penyusutan dalam metode ini dihitung berdasarkan perbedaan antara harga jual aktiva itu pada awal dibandingkan dengan pada akhir periode.
d.      Selling Price
           Di sini nilai yang dipakai adalah harga jual tanpa dikurangi biaya penjualan sehingga laporan keuangan yang disusun menurut selling price ini akan lebih besar daripada net realizable value dan metode lainnya.
e.       Expected Value
           Metode ini sangat tergantung pada pengharapan seseorang jadi bisa lebih besar atau lebih kecil dibanding dengan metode lain karena expected value ini merupakan gambaran dari present value kas di masa yang akan datang.

2.4  Monetary Non- Monetary Items
Monetary Items adalah aktiva atau keewajiban yang dinilai atau disajikan dalam unit uang yang tetapmisalnya kas, piutang atau uang atau kewajiban lainnya yang angk dan jumlah nilai uangnya yang tetap itulah yang akan ditagih, dibayar dimasa yang akan datang tanpa ada perubahan. Nilai ini adalah nilai historis dan nanti nilai net realizable value-nyalah yang akan direalisasi. Karena nilainya itu juga menggambarkan nilai sekarang (current value), untuk aktiva jenis ini tidak perlu disesuaikan kecuali barangkali untuk mengetahui present value dari nilai yang diharapkan ditagih (expected value) dimasa yang akan datang. Contoh lainnya: deposito,valuta asing, atau klaim valuta asing, surat berharga, aktiva yang akan dijual tahun depan, utang pajak, utang jangka panjang,saham preferen yang tidak konvertible dan tidak berpartisipasi, wesel, akumulasi penyisihan piutang, piutang pegawai, piutang jangka panjang, uang muka, dan utang gaji.
Non-Monetary Items adalah nilai dimana jumlah uangnya tidak ditetapkan menurut kontrak perjanjian. Dalam metode historical cost ini digambarkan sebagai old cost bukan nilai sekarang. Misalnya aktiva tetap, lahan, bangunan, peralatan, persediaan yang akan dipakai nanti dalam operasi perusahaan dan akan diganti terus jika perusahaan terus beroperasi. Dalam metode current value harga baru itu yang dicoba digambarkan dengan harga sekarang. Contoh lainnya adalah biaya dibayar dimuka, investasi dalam saham, utang pajak tertunda, akumulasi penyusutan, goodwill, hak paten, aktiva tak berwujud lain, dan kontrak penjualan.

2.5  Model Akuntansi
Ada tiga model akuntansi yang berbeda yaitu:
1. Historical Cost Accounting
2. Replacement Cost Accounting
3. Net Realizable Value Accounting
Namun, sebenarnya ada delapan model akuntansi dalam penilaian aktiva dan penentuan laba itu, yaitu sebagai berikut.
1.   Pengukuran menurut Unit Uang:
a.  Historical Cost Accounting
b.  Replacement Cost Accounting
c.  Net RealizableValue Accounting
d.  Present Value Accounting
2.   Pengukuran menurut Unit Tenaga Beli (General Price Level = GPL)
a. GPL Historical Cost Accounting
b. GPL Replacement Cost Accounting
c. GPL Net RealizableValue Accounting
d. GPL Present Value Accounting

2.5.1        Atribut yang Akan Dinilai
Atribut yang dinilai untuk masing-masing model akuntansi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
a.     Dalam model Historical Cost Accounting, atribut yang dinilai adalah jumlah uang/kas atau sejenisnya yang dibayar untuk mendapatkanaktiva atau membayar sejumlah utang yang dibebankan dalam unit uang yang timbul dari perolehan aktiva itu.
b.    Dalam model Replacement Cost Accounting, atribut yang dibayar adalah uang kas atau sejenisnya yang akan dibayar untuk memperoleh aktiva yang sama dan sejenis saat sekarng atau jumlah utang yang akan dibebankan untuk memperoleh aktiva tersebut.
c.     Dalam model Net Realizable, atribut yang dinilai adalah jumlah uang kas atau sejenisnya yang akan diperoleh dengan menjual aktiva sekarang atau jumlah uang yang harus dibayar untuk menebus kewajiban itu sekarang.
d.    Dalam model Present  atau Capitalized Value, atribut yang diinilai adalah arus kas masuk bersih yang diharapkan akan diterima dari penggunaan aktiva atau arus kas keluar net yang diharapkan akan dibayar untuk membayar kembali utang.
Atribut itu dapat kita golongkan dalam tiga cara sebagai berikut.
a.       Fokus penilaian dapat berupa masa lalu (Historical Cost), masa kini (Replacement Cost dan Net Realizable Value), dan masa yang akan datang (Present Value).
b.      Jenis transaksi: Historical Cost dan Replacement Cost merupakan transaksi perolehan atau pembebanan utang, Net Realizable Value dan Present Value menyangkut penjualan aset dan pembayaran utang.
c.       Sifat kejadian awalnya: Historical Cost didasarkan pada kejadian yang sebenarnya, Present Value berdasarkan kejadian yang dinharapkan, dan Replacement Cost dan Net Realizable Value didasarkan pada kejadian yang sifatnya hipotesis (anggapan).

2.5.2        Unit of Measure
Ada dua jenis unit ukuran yang dipakai, yaitu sebagai berikut.
a.    Unit moneter (uang)
Dalam model ini yang menjadi unit pengukur adalah unit uang.
b.    Unit daya beli (Purchasing Power)
Dalam model ini yang menjadi alat ukur adalah daya beli uangnya yang tentu berbeda apabila waktunya berbeda.

2.6  Penilaian dan Perbandingan Terhadap Model Akuntansi
Dalam menilai dan membandingkan model penilaian akuntansi tersebut, model present  value sengaja tidak diikutkan karena beberapa kelemahan sebagai berikut :
1.   Sukarnya menaksir penerimaan kas dimasa akan datang
2.   Pemilihan tingkat diskontoo yang  sangat bervariasi
3.   Alokasi arbitrer dari taksiran arus kas dalam memilih asset
4.   Alokasi arbitrer dan taksiran arus kas dari masing-masing aktiva ssecara individual
Dalam memilih dan membandingkan model-model ini maka yang menjadi dasar penilaian adalah :

1.   Kesalahan yang timbul akibat masalah waktu (timming error)
Timming error  timbul akibat perubahan nilai yang terjadi dalam suatu periode tertentu, tetapi dicatat,diperhitungkan dan dilaporkan pada periode lain. Yang sebaiknya adalah bahwa setiap kejadian dalam periode itu dicatat dan dilaporkan pada periode itu. Namun, yang lebih ideal lagi adalah bahwa perhitungan laba dilakukan dalam keseluruhan proses kegiaatan perusahaan.

2.   Kesalahan akibat alat ukur (measuring unit errors)
Kesalahan akibat alat ukur ini terjadi apabila laopran keuangan tidak disajikan dengan menggunakan dan mempertimbangkan tenaga beli dari mata uang tersebut. Idelanya tenaga beli uang harus iktu menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun laporan keuangan

3.   Kesulitan dalam penafsiran (interpretability)
Laporan keuangan harus dapat dipahami tanpa salah pengertian. Dalam penafsiran laporan keuangan kita harus memahami masalah pengertian dan penggunaannya. Dengan perkataan lain, agar model akuntansinya dapat dipahami maka kita harus menggunakan rumus ;
“jika………, maka…………….” atau (if……, them)
Dengan rumus ini maka para pembaca laporan keuangan akan memahami arti serta kegunaannya. Akuntansi memiliki alat ukur yang menghasilkan ukuran tertentu, misalnya model akuntansi yang menggunakan unit uang sebagai alat ukur berarti hasilnya ada;ah bahwa itu dinyatakan dalam rupiah (Number of  Dollar = NOD). Demikian juga gunakan konsep historical Cost dengan (Number of Dollars). Sementara itu, apabila konsep current value yang diukur dengan tenaga beli umum, akan menghasilkan ukuran barang atau Command of Goods (COG).

4.   Relevansi
Informasi akuntansi harus relevan artinya harus bermanfaat bagi para pemakianya khususnya untuk digunakan dalam proses pengambilan keputusan. Namun, karena model akuntansi yang ada masih memiliki makna yang masih kabur seperti masalah NOD dan COG tadi, sukar bagi pembaca menjadikan informasi akuntansi itu relevan tanpa menguasai ilmu akuntansi mendalam.

3.1  Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa pada masa inflasi, laporan keuangan GPLA lebih informatif dibanding historical cost, namun material atau tidaknya perbedaan yang ditimbulkan GPLA tergantung pengaruhnya terhadap perusahaan tersebut, sehingga GPLA bukan dimaksudkan untuk mengganti laporan keuangan historical cost, tetapi hanya sebagai supplement report untuk digunakan sebagai informasi tambahan dalam pengambilan keputusan bagi pihak-pihak yang membutuhkan informasi laporan keuangan sehingga tujuan dari pelaporan akuntansi terpenuhi. Hal ini didasari oleh pernyataan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia bahwa informasi tambahan antara lain mengenai pengungkapan pengaruh perubahan harga bersifat tidak mengikat.


DAFTAR PUSTAKA
Harahap, Sofyan Syafri. 2007. Teori Akuntansi. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada
Sari, Dian Inda (2006), Akuntansi Inflasi Dalam Menilai Relevansi Laporan Keuangan Suatu Perusahaan, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 8 No. 2, p. 78-91, http://4putciput.weebly.com/uploads/1/3/5/5/1355290/akuntansi_inflasi_dalam_menilai_relevasi_laporan_keuangan_suatu_perusahaan.pdf
https://diantrilestari.wordpress.com/2010/05/25/akuntansi-inflasi/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar